A film is - or should be - more like music than like fiction. It should be a progression of moods and feelings. The theme, what’s behind the emotion, the meaning, all that comes later.
~ Stanley Kubrick
IN A BETTER WORLD (2010) — What makes the friendship between Christian and Elias so special is how deeply and honestly Susanne Bier displays the emotional side of both children. Only by peering the eyes of the two actors, I can feel the all emotional reasons why they become such small terrorists. YOUNG TÖRLESS (1966) — Violence is not just a physical matter, but also psychological and emotional. In Young Törless, ethical ​​and subjective values ​​were so contradictory. Then the boundaries between good and evil even more vague. PHARAOH (1966) — Faraon is an evocative anatopism, also an astonishing colossal. A truly rare gem of its kind. Not only works as a visual declaration, Kawalerowicz also made it so carefully, so mesmerizing, yet so challenging. THE BOYS OF PAUL STREET (1969) — An ironic allegory not only for the face of war, but also the heart of it: militarism and nationalism. The irony in the end makes the two terminologies be absurd. SPIRITED AWAY (2001) — “What's in a name?” asked Shakespeare. “A name is an identity,” said this movie. MISS JULIE (1951) - Miss Julie is a very challenging study, whether psychological or situational. In a simple but smart way, Miss Julie presents the phases of a political game of love and seduction. MY NIGHT AT MAUD'S (1969) - Éric Rohmer not only talk about choices and risks of choices, there is also a glimpse the importance of choices and the pain of choices. My Night at Maud's, for me, is the most amazing movie about refracting those two opposing aspects of life. TEN (2002) — The use of "dashboard camera" method by Abbas Kiarostami is successfully providing such microscopic spectacle about the characters, not only on outside but also capable of making this movie as a unique character and gender study. THE PARTY AND THE GUESTS / A REPORT ON THE PARTY AND THE GUESTS (1966) — The allegory is not only the great thing about this Czechoslovak New Wave Cinema movie, but also its weirdness, its unnatural behavior, its peculiar plot, but the most of it is about how the movie smartly move without caution. ELEPHANT (2003) — Elephant is a piece of work that should be commended for its bravery. Such compliments are mainly intended to for Gus Van Sant's guts on using such non-linear and unusual narrative spectacle. Also packed with such unnatural risky styles which was really cost lot of guts.

Sabtu, 24 Juli 2010

Prince of Persia: The Sands of Time

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Mike Newell
Pemain:
Jake Gyllenhaal, Gemma Arterton, Ben Kingsley, Alfred Molina, Ronald Pickup, Steve Toussaint, Richard Coyle, Toby Kebbell, Reece Ritchie, Gísli Örn Garðarsson, William Foster

Tahun Rilis: 2010

Film ini diadaptasi dari video game “Prince of Persia: The Sands of Time.”

SAYA sama sekali belum pernah menyicip game “Prince of Persia,” sekalipun waktu SMP-SMA dulu sebenarnya saya termasuk maniak game console. Secara pribadi, saya tidak terlalu suka tipikal game “Prince of Persia,” action adventure. Saya lebih memilih genre RPG tiap kali bermain video game. Walaupun saya tidak pernah memainkan video gamenya, hanya dengan menonton filmnya saja saya bisa merasakan kurang lebih nuansa video gamenya. Simpel saja, karena sebagian besar aksi film ini seolah-olah layaknya video game. Bisa saya bayangkan sebuah joystick di tangan ketika menonton film ini di bioskop. Permasalahannya: apakah dengan begitu film ini termasuk film bagus?

Senin, 19 Juli 2010

The War of the Worlds

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Byron Haskin
Pemain:
Gene Barry, Ann Robinson, Les Tremayne, Bob Cornthwaite, Sandro Giglio, Lewis Martin, Housely Stevnson Jr., Paul Frees, Bill Phipps, Vernon Rich, Henry Brandon, Jack Kruschen, Sir Cedric Hardwicke, Charles Gemora

Tahun Rilis: 1953

Film ini diadaptasi dari buku “The War of the Worlds” karangan H. G. Wells.

FILM ini sudah berumur lebih dari setengah abad. Dan kalau diingat-ingat (dan pasti ingat), Steven Spielberg juga pernah membuat film science fiction yang judulnya hampir serupa dengan film ini. Tapi, “War of the Worlds” (film tahun 2005 besutan Steven Spielberg), bukanlah remake dari “The War of the Worlds.”

When in Rome

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Mark Steven Johnson
Pemain:
Kristen Bell, Josh Duhamel, Will Arnett, Jon Heder, Dax Shepard, Danny DeVito, Anjelica Huston

Tahun Rilis:
2010

APAKAH saya salah bila menuntut sedikit “logika” dalam genre romantic comed? Yah, “When in Rome,” sejauh yang saya tahu memang bergenre romantic comedy, bukan slapstick. Dan sejauh yang saya tahu, film-film bergenre romantic comedy juga butuh “logika.”

Minggu, 18 Juli 2010

Burn After Reading

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Joel Coen & Ethan Coen
Pemain:
George Clooney, Frances McDormand, John Malkovich, Brad Pitt, Tilda Swinton, Richard Jenkins

Tahun Rilis: 2008

KALIMAT yang mungkin tepat untuk merangkum “Burn After Reading” adalah: “Ini adalah film tentang orang-orang yang tampaknya waras-waras saja, tapi ternyata tidak waras-waras saja, yang kesemuanya melakukan tindakan idiot karena tuntutan situasi ironi.

盛夏光年 (Shèng Xià Guāng Nián)

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Leste Chen
Pemain: Joseph Chang, Bryant Chang, Kate Yeung

Tahun Rilis: 2006
Judul Internasional: “Eternal Summer”

FILM Taiwan yang satu ini bericerita tentang hubungan. Hubungan segitiga. Bukan hubungan setigia normal, “Eternal Summer” bercerita tentang bagaimana rumitnya memendam sebuah perasaan terlarang. Yap. Bahkan di awal film penonton sudah di-warning dengan narasi bahwa film ini membawa tema homoseksual. Dan sebenrnya sudah kelihatan juga dari posternya bahwa cerita yang dibawah film ini pasti berkaitan dengan hal-hal sensual atau malah seksual.

Saat melihat adegan pembukaan film ini, satu hal yang tersirat di benak saya: “kesendirian.” Dan memang benar sekali, dari awal sampai akhir film suasana “kesendirian” ini tetap menjerat. Ketika kecil, siswa teladan Jonathan, (Bryant Chang), diperintahkan gurunya untuk berteman dengan siswa berandal, Shane (Joseph Chang). Sepuluh tahun kemudian, keduanya tetap bersahabat dekat (sangat dekat). Jonathan masih tetap sebagai pelajar yang rajin nan pintar. Sementara Shane mengejar masa depannya dengan basket.

Persahabatan mereka adem-adem saja, sampai muncul Carrie (Kate Yeung), seorang siswi pindahan dari Hong Kong. Carrie berteman dengan Jonathan. Malahan suatu hari, Carrie mengajak Jonathan bertualang ke Taipei. Dan malam harinya Carrie merayu Jonathan di sebuah hotel untuk berhubungan seks dengannya. Sayangnya Jonathan malah bingung, dan ujung-ujungnya menolak. Selanjutnya, dengan memerhatikan kedekatan Jonathan dan Shane, Carrie mendapati bahwa Jonathan adalah seorang homoseksual. Yah, dari awal, kita (sebagai penonton) juga sebenarnya sudah tahu (dari narasi awal) bahwa Jonathan adalah homoseksual dan diam-diam menaruh hati pada Shane. Fakta ini memang bukan lagi rahasia bagi penonton.

Carrie pun berkenalan dengan Shane. Dan Shane mulai membangun ketertarikan dengan Carrie.
Suatu hari, Shane menyatakan perasaannya dengan Carrie. Carrie mau menerima perasaannya dengan syarat Shane bisa masuk universitas. Shan pun berjuang, dan Shane berhasil masuk universitas. Jonathan malah sebaliknya. Pikiran Jonathan dihadapkan pada krisis identitas dan krisis seksual yang membuatnya tidak lulus tes universitas.

http://2.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TELFfg9XGAI/AAAAAAAAA7g/MQDFAdNaAP0/s1600/Sh%C3%A8ng+Xi%C3%A0+Gu%C4%81ng+Ni%C3%A1n+1.jpg

Sebagai film yang memusatkan ceritanya pada intensitas hubungan ketiga tokoh utamanya, “Eternal Summer” termasuk berhasil membangun chemistry. Jelas sekali, film-film yang bercerita tentang hubungan tentu sangat butuh chemistry. “Eternal Summer” berhasil membangun chemistry misterius, damai, sekaligus mencekam baik antara Jonathan dengan Shane, Shane dengan Carrie, Jonathan dengan Carrie, atau ketiganya sekaligus. Kedua aktor utama film ini memberikan penampilan yang menawan dan solid, terutama pada ekspresi fasial mereka yang sangat detil (dan mencekam).

Selain itu, sebagai film tentang hubunga, “Eternal Summer” sangat berhasil memberikan kajian pada tokohnya. Ada banyak hal yang bisa dikaji dari masing-masing tokohnya. Yang paling utama, Jonathan, diam-diam membangun ketertarikan (homoseksual) rahasia pada sahabatnya Shane. Perasaan Jonathan ini baru disadarinya ketika Carrie merayunya ke ranjang hotel. Jonathan mengaku dengan Carrie tentang cinta rahasianya pada Shane, mereka berdua pun tetap berteman. Posisi Shane dalam kehidupan Jonathan naik dari sahabat menjadi cinta rahasia. Jonathan merahasiakan perasaannya ini dengan sangat baik. Jonathan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda rasa cintanya pada Shane. Sampai Jonathan menyadari Shane berpacaran dengan Carrie, Jonathan mulai terganggu dengan situasi ini. Jonathan sadar dia tidak bisa selamanya sekedar bersahabat dengan Shane.

Sementara itu, Shane melihat Jonathan hanya sebagai sahabat, satu-satunya sahabatnya. Sepanjang masa kecilnta, Shane sudah merasakan kesendirian yang amat sangat, sampai dia bertemu dengan Jonathan. Ketika Jonathan menyatakan bahwa dia sebenarnya tidak pernah mau berteman dengan Shane (bahwa sesunggunya Jonathan hanya diperintah oleh guru untuk berteman dengan Shane), Shane merasa hancur. Bayangnya kesendirian masa lalunya meghantuinya. Dalam keadaan sangat depresi, Shane memberikan hubungan seksual pada Jonathan yang selama ini hanya ada di dalam fantasi Jonathan. Entah Shane melakukan hubungan seksual ini karena dia sebenarnya tahu bahwa Jonathan selama ini memendam cinta, atau hanya sebagai “usaha terakhir” untuk mempertahankan persahabatnya, yang pasti Shane hanya menganggap Jonathan sebagai sahabatnya. Shane sendiri sadar bahwa dia butuh Carrie (sebagai kekasihnya) dan Jonathan (sebagai sahabatnya).

Carrie, gadis yang posisinya di antara Jonathan dan Shane. Carrie mulanya merayu Jonathan untuk jadi kekasihnya. Sayangnya, Jonathan tidak mungkin jadi kekasihnya. Mengetahui hal itu, Carrie mengalihkan perhatiannya pada Shane (dan tetap berteman dengan Jonathan). Entah memang Carrie menerima cinta Shane karena benar-benar mempunyai perasaan tulus pada Shane, atau karena Shane adalah sahabat Jonathan (dan berpacaran dengan Shane memberikan posisi yang lebih intens dengan Jonathan – yang artinya satu-satunya cara bagi Carrie untuk mencintai Jonathan).

Ketiga tokoh ini mempunya perasaan terpendam masing-masing terhadap masing-masing. Dan ketika rahasia satu sama lain mulai terkuak, mereka bertiga dituntut untuk mengintrospeksi ulang hubungan mereka satu sama lain. “Eternal Summer” memberikan drama pergulatan batin yang sangat intens. Film ini menuntut kita menyimak apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, dan apa yang selanjutnya akan dilakukan para tokohnya. Ketiga tokohnya bergulat menentukan posisi dua orang dalam hidupnya: yang mana “teman” dan yang mana “cinta.” Dan untuk menentukan hal itu, mereka juga harus belajar mengorbankan. Film ini, pada dasarnya, menggambarkan kebutuhan dasar dalam hubungan manusia.

http://4.bp.blogspot.com/-ol3Ag0qoak8/TWvKBW3RH8I/AAAAAAAACNE/W3FzLYGUHn0/s1600/C.bmp

Jumat, 16 Juli 2010

Ratatouille

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Brad Bird

Tahun Rilis: 2007

“SEMUA orang bisa masak,” kata Auguste Gusteau (almarhum koki ternama di Perancis – salah satu tokoh film ini, “tapi cuma yang bertekad kuat yang bisa hebat.” Intinya, semua orang bisa masak asal mau mencoba.

Moon

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Duncan Jones
Pemain:
Sam Rockwell, Kaya Scodelario, Benedict Wong, Matt Berry

Tahun Rilis: 2009

KETIKA film-film sci-fi komersial masa kini lebih mengedepankan keheboh-hebohan ketimbang science-nya (semacam “Transformer”), “Moon” muncul mengembalikan kembali makna “fiksi ilmiah” ke artian hakiki. “Moon” mengingatkan kembali akan feel-feel sci-fi hakiki yang diembang “Alien,” “2001: A Space Odyssey,” dan film-film sejenisnya. Kalau boleh saya berkata, film semacam ini lah yang benar-benar true science.

Seperti istilahnya, science fiction, yang terdiri dari dua huruf science” dan “fiction,” genre ini bisa dibagi menjadi dua kelompok utama: kelompok yang lebih menitik beratkan fiksi-nya dan kelompok yang lebih mengkaju sains-nya. Paham kan kenapa saya menyebut film-film setipe “Moon” ini dengan istilah true science? Karena, terlepas dari fiksinya, benar-benar ada kondisi yang bisa dikaji di dalamnya. Stanley Kubrick punya istilah sendiri untuk kelompok ini: scientific realism.

Bukan berarti film-film sci-fi
yang lebih mengedepankan fiksi-nya adalah kelompok buruk lo! Faktanya film-film dari kelompok ini lah yang mendominasi genre sci-fi secara umum. Ada juga contoh film yang bagus dari kelompok ini, misalnya “Star Wars” atau “Back to Future.”

http://1.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TECKewIvEfI/AAAAAAAAA7A/eMrTssKy0WU/s1600/Moon+2.jpg

Sebenarnya sulit bagi saya kalau diharuskan menulis sinopsis singkat film ini tanpa berspoiler-spoiler ria. “Moon” mengambil latar masa depan ketika manusia sudah mampu menghasilkan sebuah sumber energi baru yang lebih efektif dan efisien. Sumber energi ini dipasok oleh perusahaan Lunar Industries dari Bulan. Ada sebuah pangkalan di Bulan yang dinamai "Sarang" (dalam bahasa Korea yang artinya cinta dan dalam bahasa Melayu/Indonesia artinya sarang/kandang), dari pangkalan ini lah sumber energi itu dipasok. Pangkalan ini hanya diurus oleh seorang pria, Sam Bell (Sam Rockwell), yang dikontrak kerja tiga tahun. Satu-satunya yang menemani Sam di Sarang hanyalah asisten robot yang dinamai GERTY. Film ini dimulai di hari-hari terakhir kontrak Sam. Jelas sekali Sam sudah amat sangat rindu dengan keluarganya di Bumi. Setidaknya cuma sebatas ini saja yang bisa saya jabarkan seputar cerita yang disuguhkan “Moon” tanpa perlu berspoiler-spoiler ria, sisanya silahkan tonton sendiri.

Bisa dilihat “Moon” banyak memetik beberapa inspirasi dari “2001: A Space Odyssey.” Design interior Sarang cukup mengingatkan dengan pesawat luar angkasa di “2001: A Space Odyssey.” Dan GERTY, juga mengingatkan dengan HAL 9000 di “2001: A Space Odyssey.” Bedanya, kalau di “2001: A Space Odyssey” Dr. David dan Dr. Frank melaksanakan tugas berdua di pesawat luar angkasa, Sam bisa dibilang benar-benar seorang diri di Bulan.

Untuk sisi thriller-nya, “Moon” bisa dikelompokkan ke dalam genre “paranoia thriller.” Thriller-thriller semacam ini biasanya menyoroti ketegangannya dari sisi paranoid (sesuai dengan istilahnya). Dan paranoia yang disoroti di “Moon” tidak lain adalah usaha Sam mempertahankan “kewarasannya” dan “kemanusiaannya.” Jelas sekali hidup sebatang kara bukan lah hal yang gampang. Banyak tekanan-tekanan psikologis yang pasti bakal di rasa. Bukankah salah satu hakikat manusia adalah makhluk sosial? Sudah jelas logikanya bahwa Sam, yang dikontrak melakukan pekerjaan di Bulan, tidak mungkin asal dipilih begitu saja. Ada prosedur-prosedur tertentu yang harus dilakukan pihak Lunar sebelum memilih Sam. Dan kalau Sam terpilih, sudah pasti dia memang kandidat yang dinyatakan siap baik fisik maupuk psikis. Berbagai cara dilakukan Sam untuk menjaga kewarasan dan kemanusiaannya, mulai dari menyusun maket, bercocok tanam, ngobrol dengan GERTY, sampai kirim-kiriman pesan video ke keluarganya di bumi. Tapi apakah semua usahanya tersebut serta merta meletakkan kewarasan dan kemanusiaannya dalam posisi aman? Sam punya teman ngobrol di Sarang, tapi teman ngobrol-nya jelas bukan manusia.

Secara keseluruhan ide yang disuguhkan “Moon” benar-benar nyata. Nyata dalam artian mampu menyajikan isu kritis nyata sekalipun cerita yang disuguhkan murni fiksi dan belum tentu terjadi di masa depan. Ditambah Sam Rockwell benar-benar mampu memainkan emosinya di sini. Bagi yang sudah menonton film ini pasti bakal menangkap isu kloning manusia yang juga dibawa. Katakanlah seseorang membuat kloning (tiruan genetik) saya demi kepentingan tertentu. Kloning yang benar-benar sempurna; hidup, nyata, berpikir, dan mengemban memori saya. Lantas manakah yang benar-benar saya? Apakah kloning saya tidak bisa disebut saya? Apakah kloning saya tidak punya sisi kemanusiaan? Apakah kloning saya tidak bisa disebut manusia? Apa kira-kira yang membuat manusia disebut “manusia”?

http://2.bp.blogspot.com/-uLSbCumGA8Y/TWvGJW9zNXI/AAAAAAAACMs/-4gJX4bAOu8/s1600/B.bmp

Rabu, 14 Juli 2010

Drugstore Cowboy

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Gus Van Sant
Pemain:
Matt Dillon, Kelly Lynch, James Le Gros, Heather Graham, Max Perlich, James Remar, Grace Zabriskie, William S. Burroughs

Tahun Rilis: 1989

PERNAH lihat “Bonnie and Clyde,” atau “Easy Rider,” atau drama-drama outlander (pelakon kriminal) lainnya? “Drugstore Cowboy,” film kedua Gus Van Sant (sekaligus film yang melambungkan namanya sebagai sutradara berkualitas) ini juga membawa kisah yang serupa/setipe dengan film-film tersebut.

Selasa, 13 Juli 2010

Gone

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Ringan Ledwidge
Pemain:
Scott Mechlowicz, Amelia Warner, Shaun Evans

Tahun Rilis: 2007

MENGGABUNGKAN road movie dan thriller adalah yang disajikan di dalam “Gone,” film produksi Inggris dan Australia. Sesuai dengan tagline-nya: The trip of a lifetime. Cuma sekedar mengingatkan: this one is not a gore thriller.”

Up

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Pete Docter

Tahun Rilis: 2009

MENGALAHKAN empat pesaingnya (“Coraline,” “Fantastic Mr. Fox,” “The Princess and the Frog,” dan “The Secret of Kells”), “Up” menyabet gelar Best Animated Feature di ajang Oscar 2009 kemarin.

Kekuatan utama “Up” ada pada animasi karakter-karakternya. Tokoh-tokoh di film ini lucu. Tapi tidak sekedar imut-imutan ala film-film kartun standar. Tokoh-tokoh “Up” lucu layaknya manusia. Tokoh-tokoh “Up” sangat belieavable. Mereka hidup. Mereka punya emosi. Mereka tertawa. Punya amarah. Punya rasa sedih. Sekalipun tampil sebagai tokoh CGI, mereka juga punya masalah layaknya manusia.

http://4.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TDw3RPl1uaI/AAAAAAAAA54/rn3_AhgYgH8/s1600/39525_ori.jpg

Ternyata tokoh lanjut usia pun bisa mampang di film animasi. Carl, kakek tua pendiam tokoh utama film ini membuktikan. “Up” bercerita tentang ambisi kanak-kanak Carl dan mendiang istrinya, Ellie. Ketika masih kanak-kanak, Carl dan Elli pernah membuat janji untuk bertualang ke Paradise Falls (nama air terjun). Janji tersebut mereka terus mereka pendam hingga menikah. Sayangnya tuntutan-tuntutan rumah tangga yang mendesak membuat mereka berdua tidak pernah mampu mewujudkan. Adegan pernikahan Elli dan Carl hingga masa tua mereka ini disajikan dengan potongan-potongan dipercepat kehidupan mereka. It's a lovely scene. Elli meninggal karena sakit, kini tinggal Carl yang akan mewujudkan mimpi mereka (ketimbang rumahnya digusur dan Carl dititipkan di panti jompo).

Carl menggunakan ribuan balon helium untuk menerbangkan rumahnya. Mungkin yang dilakukan Carl ini hampir tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Well, I don't know. Ada yang pernah mencoba menerbangkan rumah dengan ribuan balon helium? Mungkin bisa. Mungkin tidak. Terlepas dari itu, fantasi yang dihadirkan di film ini benar-benar unik – unik tanpa perlu heboh berlebihan.

http://4.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TDw3Q8PeUiI/AAAAAAAAA5w/t6eYqNl2xZc/s1600/38687_ori.jpg

Dalam perjalanannya Carl ditemanik teman-tak-terduga (dan juga tak-diinginkan): Russell bocah penjelajah (semcam pramuka) yang sedang dalam misi mendapatkan lencana “membantu orang tua” (lencana terakhirnya untuk jadi penjelajah senior), seekor burung langka yang dinamai Kevin, dan anjing bernama Dug yang bisa berbicara melalui (semacam) resivier di kalungnya (yang sebenarnya sedang mengincar Kevin). Carl juga berhadapan dengan Charles F. Muntz, penjelajah idolanya ketika kecil dulu, yang sedang memburu Kevin bersama gerombolan pasukan anjing robotiknya.

Disney's Pixar jelas menunjukkan pendewasaannya di film-filmnya yang terakhir ini. “WALL-E,” “Up,” dan yang paling terakhir “Toy Story 3.” Animasi-animasi tersebut jelas lebih hidup untuk ukuran animasi. Bukan cuma lebih hidup dari sisi visualisasinya, tapi masalah yang disajikan juga lebih kompleks ketimbang film-film animasi pada umumnya. Lihat saja dilema yang dirasa oleh Carl, atau masalah keluarga Russell. Dan sisi terbaik “Up” adalah bagaimana film ini bisa tetap menyajikan masalah yang lebih kompleks tanpa kehilangan nuansa magical-nya.

http://1.bp.blogspot.com/-nhStlHuwPw8/TWvFtSuSwNI/AAAAAAAACMk/29KSHDpWz7U/s1600/B%252B.bmp

Senin, 12 Juli 2010

The Clearing

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Pieter Jan Brugge
Pemainb:
Robert Redford, Helen Mirren, Willem Dafoe, Alessandro Nivola, Matt Craven, Melissa Sagemiller, Wendy Crewson, Larry Pine, Diana Scarwid

Tahun Rilis:
2004

WAYNE Hates (Robert Redford) dan istrinya Eileen (Helen Mirren) adalah contoh pasangan sempurna. Lebih dari berkecukupan. Punya dua anak dewasa. Dan yang terpenting, bahagia. Kedunya tinggal menanti masa tua yang tenang nan damai. Suatu pagi ketika Wayne hendak berangkat kerja, seorang pria (Willem Dafoe) yang sepertinya mengenali Wayne menghentikan mobilnya, masuk, lalu menodongkan pistol ke arah Wayne. Wayne diculik.

Minggu, 11 Juli 2010

Fantastic Mr. Fox

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Wes Anderson

Tahun Rilis: 2009

Film ini diangkat dari novel “Fantastic Mr. Fox” karangan Roald Dahl.

“FANTASTIC Mr. Fox” adalah film animasi berbentuk stop-motion. Bagi yang masih asing dengan istilah stop-motion, silahkan simak penjabaran singkat saya di sini atau langsung saja baca di Wikipedia. “Fantastic Mr. Fox” membawakan sebuah fabel kepada penontonnya. Tokoh-tokoh binatang di sini dibuat hidup, berbicara, bahkan bertingkah semacam manusia. Fabel is fabel.

Låt den rätte komma in

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Tomas Alfredson
Pemain: Kåre Hedebrant, Lina Leandersson, Per Ragnar, Henrik Dahl, Karin Bergquist, Elif Ceylan

Tahun Rilis: 2008
Judul Internasional: “Let the Right One In”

Film ini diangkat dari novel “Låt den rätte komma in” karangan John Ajvide Lindqvist.

KETIMBANG “The Twilight Saga: Eclipse” dengan promosinya yang besar-besaran, film vampir dari Swedia ini justru diam-diam ternyata jauh lebih cemerlang. “Låt den rätte komma in,” atau secara internasional lebih dikenal dengan judul “Let the Right One In,” bolehlah dibilang film vampir terbaik sepanjang dekade 2000-2010 ini. “Let the Right One In” menampilkan tema vampir/drakula secara serius (serupa dengan yang dilakukan “Nosferatu” dan “Dracula”); bukan menyuguhkan vampir yang justru sparkling bila terkena matahari, bukan menyuguhkan vampir flamboyan, bukan menyuguhkan vampir pucat tampan yang bukannya ditakuti malahan digilai, bukan menampilkan vampir bersepeda motor besar sambil menggopong senjata api raksasa. “Let the Right One In” kembali pada format klasik sosok vampir – menampilkan sosok vampir yang butuh dan haus darah – dengan setting yang lebih modern.

Sabtu, 10 Juli 2010

Up in the Air

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Jason Reitman
Pemain: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick

Tahun Rilis: 2009

Film ini diangkat dari novel “Up in the Air” karangan Walter Kim.

SIAPA yang mau dipecat dari pekerjaannya? Apalagi setelah belasan – bahkan puluhan – tahun mengabdi? Atau lebih tepat dipertanyakan, siapa yang tega memecat pekerjaan seseorang? Bahkan bagi sebagian orang, memecat pekerjaan orang lain hampir setara dengan membunuh orang tersebut. Bukan cuma membunuh pekerjaannya, tapi juga membunuh orangnya, membunuh hidupnya, bahkan mungkin membunuh keluarga dan orang di sekitarnya. Siapa yang tega melakukannya? Well, tokoh utama film ini jelas sekali sering melakukannya. Ryan Bingham (George Clooney) rela berpergian dari kota ke kota demi untuk memecat pekerjaan orang lain – mewakili pihak yang seharusnya bertanggung jawab melakukan hal tersebut tapi tidak berani melakukannya. Dan memang itu lah pekerjaan tokoh utama film ini.

Wikipedia mengkategorikan “Up in the Air” sebagai film drama-komedi. “Up in the Air” rasanya kurang cocok untuk benar-benar disebut komedi. “Up in the Air” juga bukan black comedy atau dark comedy. Bahkan “Up in the Air” sama sekali tidak cocok untuk disebut sebuah kisah tragedi. “Up in the Air” lebih cocok disebut drama. Atau lengkapnya, “Up in the Air” lebih tepat dipandang sebagai sebuah drama tentang pekerjaan seseorang, bagaimana orang itu melakukannya, serta pengaruhnya bagi kehidupnya.

Sekilas sepertinya gampang-gampang saja Ryan melakukan pekerjaannya. Dia mendatangi kantor-kantor yang menyewanya, lalu tinggal memecat orang-orang yang harus dipecat – dengan etika dan tata krama. Faktanya, pekerjaan Ryan itu tidak segampang seperti yang kita lihat ketika dia melakukannya. Ryan punya kredibilitas pada pekerjaannya. Ryan tidak serta merta menendang orang-orang yang dia pecat. Ryan punya respect dengan orang-orang yang akan dia pecat. Atau singkatnya, Ryan tahu persis apa yang dia kerjakan.

http://2.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TDlWBncwxgI/AAAAAAAAA4g/CncHoE09-Us/s1600/Up+in+the+Air.JPG

Lalu muncul Natalie Keener (Anna Kendrick), gadis muda, cerdas, dan ambisius, yang baru saja diperkerjakan di kantor tempat Ryan bekerja. Natalie muncul dengan ide barunya: melakukan pemecatan melalui webcam. Ide ini ditanggapi positif oleh pemilik perusahaan karena jelas sekali bakal memotong besar-besaran biaya operasi kantor: biaya hotel, biaya tetek-bengek, termasuk biaya pesawat karena dengan webcam mereka cuma perlu duduk-duduk di kantor. Ryan menganggap gebrakan yang dilakukan Natalie ini tidak etis. Memecat orang melalui webcam sama halnya dengan memutuskan pacar melalui SMS. Ryan beranggapan Natalie sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pekerjaannya. Pemilik perusahaan pun menugaskan Ryan untuk membawa Natalie dalam pekerjaannya – untuk menunjukkan pada Natalie “wujud” sebenarnya pekerjaan yang dia gandrungi. Maka Natalie dan Ryan bertualang memecat orang-orang dari kota-ke-kota.

Ryan menjalin hubungan dengan Alex (Vera Farmiga) – sekalipun tidak satu pun dari mereka menyatkan sebuah komitmen. Alex, sama halnya dengan Ryan, juga seorang petualang dari bandara yang satu ke bandara lainnya. Mereka menyocokkan jadual berjumpa. Mereka membuat janji. Hubungan keduanya bisa dibilang berkelas dan modern. Makan di restoran mewah. Bercinta di hotel berkelas. Keduanya bertingkah layaknya pasangan bahagia, faktanya tidak satupun yang mengakui bahwa mereka (secara tidak langsung dan tidak resmi) “pasangan.”

Gaya hidup Ryan pun bisa dibilang sangat eksklusif. Ryan bukan tipe orang yang hobi berkumpul, berbincang-bincang, atau bercanda di tengah kehangatan keluarga. Ryan lebih memilih mengasingkan diri dari keluarga. Ryan tidak punya kediaman tetap. Dia berpindah-pindah bandara – pesawat – bandara – hotel – bandara – dan seterusnya sesuai dengan tempat dia ditugaskan. Ryan tidak mau rumah tetap. Ryan tidak mau menikah. Ryan tidak mau sebuah keluarga. Ryan sesekali menjadi pembicara dalam sebuah acara motivasi diri tentang “What's In Your Backpack?” Ryan tidak mau terikat komitmen keluarga.

Jason Reitman memang piawai mengarahkan pemainnya. Setelah Ellen Page diantarkan ke Oscar melalui “Juno,” kini Vera Farmiga dan Anna Kendrick yang dinobatkan Oscar melalui film ini. Vera Farmiga tampil super elegan. Dia menyajikan sosok wanita yang hangat, cantik, glamor, bitchy, modern, praktis, eksklusif – sulit menentukan yang mana yang tepat untuk karakter solid ciptaan Farmiga. Anna Kendrick pun tampil cemerlang sebagai gadis muda yang masih sangat hijau tapi penuh dengan ambisi. Anna Kendrick membuktikan kualitas aktingnya jauh lebih cemerlang dari sekedar penampilan pajangannya di “Twilight Saga.”

“Up in the Air” termasuk film dengan tema dan pengemasan yang langka di tengah maraknya pop culture dewasa ini. Mulanya “Up in the Air” menyajikan sosok yang sama sekali tidak baik – bahkan pekerjaan Ryan cenderung dibenci malah dihujat amoral. Seiring berjalannya film, “Up in the Air” semakin memaparikan sisi rasional dari temanya dengan logika yang nyaris sempurna (bentuk serupa dengan film-film Jason Reitman sebelumnya: “Thank You for Smoking” dan “Juno”). Dari ketiga filmnya, jelas sekali Jason Reitman termasuk sutradara mempunya kepekaan tema dan ketajaman logika.

http://1.bp.blogspot.com/-nhStlHuwPw8/TWvFtSuSwNI/AAAAAAAACMk/29KSHDpWz7U/s1600/B%252B.bmp

Jumat, 09 Juli 2010

Shutter Island

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Martin Scorsese
Pemain: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams, Emily Mortimer, Max von Sydow, Jackie Earle Haley, Ted Levine, John Carroll Lynch, Elias Koteas, Patricia Clarkson

Tahun Rilis: 2010

Film ini diangkat dari novel “Shutter Island” karangan Dennis Lehane.

“SHUTTER Island” adalah thriller psikologis besutan sutradara ternama Martin Scorsese. Penikmat film mana yang tidak tahu Scorsese? “Shutter Island” punya aura hitam. Cerita yang dibawa “Shutter Island” sangat kelam. It is one of the doomy things. Scorsese menampilkan sebuah film dengan layer berlapis-lapis tentang trauma kali ini.

Kamis, 08 Juli 2010

Coraline

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Henry Selick

Tahun Rilis: 2009

Film ini diangkat dari novel “Coraline” karangan Neil Gaiman.

“CORALINE” adalah sampel dari stop-motion. Agak sulit menjelaskan apa itu stop-motion. Pastinya ini bukan CGI. Stop-motion bisa dibilang semacam teknik membuat manipulasi visual gerakan benda-benda fisik. Stop-motion biasanya dibuat dengan kumpulan potongan gambar gerakan kecil obyek stop-motion sehinggal menimbulkan semacam ilusi visual bahwa obyek tersebut bergerak. Ambil contoh sebuah koin di meja, lalu beri gerakkan kecil secara berkali sembari mengambil gambar per gerakannya. Keseluruhan gambarnya disatukan menjadi semacam slide show. Jadilah contoh simpel stop-motion. Yah, buat yang masih belum mengerti, silahkan simak sendiri trailer “Coraline” (atau filmnya).

Post Grad

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Vicky Jenson
Pemain: Alexis Bledel, Zach Gilford, Rodrigo Santoro, Jane Lynch, Carol Burnett, Michael Keaton

Tahun Rilis: 2009

“POST Grad” mungkin memang bukan lah komedi yang sangat bagus, dan memang bukan. Tapi “Post Grad” memberikan tontonan yang cukup menarik pada dasarnya. “Post Grad” mungkin memang bukanlah tontonan yang kocak. “Post Grad” bukan pula komedi yang lucu. Tapi ada pergerakan yang menyenangkan dalam cerita “Post Grad.” Ada keanehan dalam “Post Grad.” Dan saya sendiri cukup terhibur dengan “Post Grad,” sekalipun saya sadar film komedi ini masih jauh dari kata bagus.

Rabu, 07 Juli 2010

The Princess and the Frog

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Ron Clements & John Musker

Tahun Rilis: 2009

Film ini diinspirasi dari dongeng “The Frog Prince” karya Grimm brothers.

IT is an old-Disney thing. It's so classic, so old, yet so cute, so sweet, and so fascinating.

Saya rasa sebaris tulisan di atas sudah lebih dari cukup untuk merepresentasikan film animasi klasik ini. “The Princess and the Frog” bukan animasi CGI seperti yang sering digunakan Pixar, tapi lebih menggunakan animasi gambar klasik seperti yang sering digunakan Disney di masa jayanya dulu (sekitar 70-90-an). “The Princess and the Frog” benar-benar mampu membawakan mewakili animasi klasik di tengah-tengah wabah CGI dan 3D yang sudah mulai merajalela ini.

Bagi mereka-mereka yang masa kecilnya dihiasi oleh “Beauty and the Beast,” “The Little Mermaid,” “Aladdin,” “The Lion King,” atau film-film animasi klasik jebolan Disney lainnya, pembukaan film ini bukan lah apa-apa. Bahkan tidak ada yang terlalu spesial dari pembukaannya. But, at least, pembukaan film ini cukup mengembalikan ingtan sehebat Disney merajai dunia animas berdekade-dekade silam. Bayangkan animasi klasik Mickey Mouse yang digambar dengan ratusan kertas lalu dibuka secara cepat hingga menampilkan suatu gerakan. Film ini mengingatkan bahwa karya seni yang klasik belum tentu kuno dan kalah dengan produk-produk modern.

Film ini dibuat berdasarkan dongeng klasik Grimm bersaudara “The Frog Prince.” Dongeng yang sudah umum: seorang pangeran dikutuk menjadi kodok, lalu dicium oleh seorang putri, dan berkat ciuman itu sang pangeran kembali ke wujud tampannya. “The Princess and the Frog” adalah versi daur ulang dongeng itu.

Sebuah langkah yang ekstrim dilakukan, “The Princess and the Frog” mengambil Tiana, seorang gadis negro, sebagai tokoh utamanya. Film animasi Disney yang menggunakan tokoh kulit hitam sebelum film ini adalah “Song of the South” Sebuah langkah yang berani mengingat penggunaan gadis kulit hitam bisa mengangkat kontroversi seputar rasisme. Dan faktanya memang terjadi protes seputar pekerjaan tokoh utamanya sebagai pelayan, seputar fakta bahwa sang pangeran bukan lah negro tetapi timur tengah, penggunaan voodoo, hingga persoalan pemilihan nama. Secara pribadi, saya sendiri tidak menemukan hal-hal SARA yang disturbing di sini.

http://4.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TDV5ZYSXcJI/AAAAAAAAA2Q/bWsHpGOkh04/s1600/50069_ori.jpg

Tiana, tokoh utama film ini, bukan lah benar-benar seorang princess. Tiana adalah gadis negro yang hidup di New Orleans sekitar pasca PDII. Tiana bekerja sebagai pelayan restoran. Tiana punya impian untuk membuka restorannya sendiri kelak – impian almarhum bapaknya juga. Hidup Tiana adalah sebuah perjuangan keras, sekeras apa pun itu, Tiana tetap menjaga hidup impiannya.

Di sisi lain kota datang Pangeran Naveen dari Malvonia yang berencana menikahi Lotta – sahabat Tiana yang manja tapi kaya raya – demi menuntaskan masalah keuangannya. Tapi Naveen sudah keburu disulap jadi kodok oleh seorang dukung voodoo, Dr. Facillier, yang punya rencana keji. Naveen bertemu dengan Tiana di balkon rumah Lotta dengan pakaian ala princess (milik Lotta). Naveen otomatis mengira Tiana seorang putri, dan tentunya bakal melepaskan kutukannya bak di dongeng-dongeng. Hasilnya – spoiler! – Tiana malah ikut-ikutan jadi kodok pula. Keduanya jadi kodok, tapi tetap dengan otak, insting, dan naluri kemanusiaan mereka. Mereka berpikir. Mereka makan gumbo. Bahkan mereka merasa jijik menelan lalat. Naveen dan Tiana pun harus berjuang berdua mencari cara untuk lepas dari kutukan kodok tersebut. Di perjalanan mereka berjumpa dengan Louis, buaya yang terobsesi dengan jazz, dan Ray, kunang-kunang yang jatuh cinta dengan bulan. Mereka pun bertemu dengan Mama Odie, dukun voodoo yang memberi “wejangan” agar mereka bisa lepas dari kutukan.

Jelas ada banyak yang berbeda yang tidak bisa ditemukan di animasi-animasi CGI & 3D di sini. Ada aliran atmosfir yang klasik tapi menyenangkan. Ada perpaduan warna-warna yang mewah. Cerita, alur, dan plot yang klasik tapi tetap menarik. “The Princess and the Frog” mampu mengingatkan animasi-animasi klasik menarik dari masa-masa keemasaan Disney berdekade-dekade silam.

http://4.bp.blogspot.com/-0H2FLhaH8G0/TWvOgO_yp_I/AAAAAAAACNc/yP9H1lANsNk/s1600/B-.bmp

The Blind Side

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: John Lee Hancock
Pemain:
Sandra Bullock, Quinton Aaron, Tim McGraw, Kathy Bates, Lily Collins, Jae Head, Ray McKinnon, Kim Dickens, Adriane Lenox

Tahun Rilis: 2009

Film ini diadaptasi dari buku “The Blind Side: Evolution of a Game” karangan Michael Lewis.

YANG membuat “The Blind Side” menjadi tontonan menyenangkan adalah kadar emosionalnya. Pada dasarnya garis besar cerita yang disajikan di film ini nyaris klise; orang kulit putih menyelamatkan hidup orang kulit hitam, perjuangan seseorang dari nol besar sampai meraih nama besar, dan bla bla bla. Nothing new. Dan semua yang disajikan nyaris predictable.

Selasa, 06 Juli 2010

It's Complicated

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Nancy Meyers
Pemain:
Meryl Streep, Alec Baldwin, Steve Martin, John Krasinski, Lake Bell, Mary Kay Place, Rita Wilson, Alexandra Wentworth, Hunter Parrish, Zoe Kazan, Caitlin Fitzgerald

Tahun Rilis: 2009

MERYL Streep, peraih 17 nominasi Oscar (tercatat ketika saya menulis tulisan ini), bermain sebagai janda tiga anak pemilik sebuah bakery di film romantic comedy besutan Nancy Meyers ini. Tema yang diangkat “It's Complicated” ini agak mengingatkan dengan film Nancy Meyers sebelumnya, “Something's Gotta Give.” Dua film itu sama-sama mengangkat kisah “menemukan kembali kebahagiaan” dari sudut pandang seorang janda.

Minggu, 04 Juli 2010

The Cider House Rules

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Lasse Hallström
Pemain:
Tobey Maguire, Michael Caine, Charlize Theron, Paul Rudd, Delroy Lindo, Erykah Badu, Jane Alexander, Kathy Bates

Tahun Rilis: 1999

Diadaptasi dari novel “The Cider House Rules” karya John Irving.

LASSE Hallström sebenarnya termasuk sutradara yang patut diperhitungkan. Kebanyakan filmnya memang mengusung tema-tema sentimentil dengan eksekusi yang cenderung melodramatis. Lasse Hallström cukup berhasil menyentuh sisi sentiemntil sebagian besar penontonnya dalam film “Hachiko: A Dog's Story” yang rilis 2009 kemarin. Sayangnya, 2010 barusan, Lasse Hallström malah menyuguhkan karya yang mengecewakan: “Dear John.” Film-film terbaik Lasse Hallström antara lain, “Mitt liv som hund” (1985), “What's Eating Gilbert Grape” (1993), “Chocolat” (2000), dan “The Cider House Rules” ini.

Dalam “The Cider House Rules,” Lasse Hallström tidak hanya menyuguhkan sebuah cerita sentimentil yang bisa menggugah atau malah membuat perasaan haru-biru. Lebih jauh, Lasse Hallström menjamah berbagai ranah yang cukup luias dengan kritis di film ini. “The Cider House Rules” tidak cuma sekedar cengeng-cengengan.

Sabtu, 03 Juli 2010

The Twilight Saga: Eclipse

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: David Slade
Pemain:
Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner, Bryce Dallas Howard, Billy Burke, Dakota Fanning

Tahun Rilis: 2010

Diadaptasi dari novel “Eclipse” karya Stephanie Meyer.

OPENING-nya yang memberi kesan aksi dan misteri yang lebih menghibur ketimbang “Twilight” dan “New Moon” ternyata sama sekali tidak akan ditemukan di menit-menit selanjutnya. Praktisnya, “The Twilight Saga: Eclipse” (atau singkat saja “Eclipse”) cuma tentang ngobrol ngobrol – ciuman – ngobrol – ciuman – ngobrol ngobrol – ciuman – ngobrol ngobrol. Mau berharap apa? Ini film romansa-romansa yang target pasarnya ABG dan pra-ABG, kan?

Kamis, 01 Juli 2010

Valentine's Day

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
utradara: Garry Marshall
Pemain:
Jessica Alba, Jessica Biel, Kathy Bates, Bradley Cooper, Eric Dane, Patrick Dempsey, Hector Elizondo, Jamie Foxx, Jennifer Garner, Topher Grace, Anne Hathaway, Carter Jenkins, Ashton Kutcher, Queen Latifah, Taylor Lautner, George Lopez, Shirley MacLaine, Emma Roberts, Julia Roberts, Taylor Swift

Tahun Rilis: 2010

Dari judulnya saja sudah bisa ditebak kalau film ini bercerita tentang cinta-cintaan di hari Valentine. “Valentine's Day,” lebih tepatnya, berupa omnibus tentang hari Valentine.