A film is - or should be - more like music than like fiction. It should be a progression of moods and feelings. The theme, what’s behind the emotion, the meaning, all that comes later.
~ Stanley Kubrick
IN A BETTER WORLD (2010) — What makes the friendship between Christian and Elias so special is how deeply and honestly Susanne Bier displays the emotional side of both children. Only by peering the eyes of the two actors, I can feel the all emotional reasons why they become such small terrorists. YOUNG TÖRLESS (1966) — Violence is not just a physical matter, but also psychological and emotional. In Young Törless, ethical ​​and subjective values ​​were so contradictory. Then the boundaries between good and evil even more vague. PHARAOH (1966) — Faraon is an evocative anatopism, also an astonishing colossal. A truly rare gem of its kind. Not only works as a visual declaration, Kawalerowicz also made it so carefully, so mesmerizing, yet so challenging. THE BOYS OF PAUL STREET (1969) — An ironic allegory not only for the face of war, but also the heart of it: militarism and nationalism. The irony in the end makes the two terminologies be absurd. SPIRITED AWAY (2001) — “What's in a name?” asked Shakespeare. “A name is an identity,” said this movie. MISS JULIE (1951) - Miss Julie is a very challenging study, whether psychological or situational. In a simple but smart way, Miss Julie presents the phases of a political game of love and seduction. MY NIGHT AT MAUD'S (1969) - Éric Rohmer not only talk about choices and risks of choices, there is also a glimpse the importance of choices and the pain of choices. My Night at Maud's, for me, is the most amazing movie about refracting those two opposing aspects of life. TEN (2002) — The use of "dashboard camera" method by Abbas Kiarostami is successfully providing such microscopic spectacle about the characters, not only on outside but also capable of making this movie as a unique character and gender study. THE PARTY AND THE GUESTS / A REPORT ON THE PARTY AND THE GUESTS (1966) — The allegory is not only the great thing about this Czechoslovak New Wave Cinema movie, but also its weirdness, its unnatural behavior, its peculiar plot, but the most of it is about how the movie smartly move without caution. ELEPHANT (2003) — Elephant is a piece of work that should be commended for its bravery. Such compliments are mainly intended to for Gus Van Sant's guts on using such non-linear and unusual narrative spectacle. Also packed with such unnatural risky styles which was really cost lot of guts.

Senin, 31 Mei 2010

Cinta Setaman

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Harry Dagoe Suharyadi
Pemain:
Nicholas Saputra, Surya Saputra, Masrha Timothy, Atiqah Hasiholan, Davina Veronica, Lukman Sardi, Jajang C Noer, Ria Irawan, Slamet Rahardjo, Harry Dagoe Suharyadi, Djenar Maesa Ayu, Sigi Wimala, Dennis Adiswara, Alex Abbad, Inul Daratista, Julia Perez, Naboyuki Suzuki, Vicky Burky, Dalton Tanonaka, Sita RSD, Johny Iskandar, Richard Oh, Joko Anwar, Titiek Puspa, Oppie Andaresta, Rudy Wowor, Indy Barends, Nadia Vela, Ibrahim Leon

Tahun Rilis: 2008

SIAPA bilang Julia Perez aktingnya jelek? Seorang Julia Perez membuktikan di film ini kalau ternyata beliau juga bisa memberikan penampilan yang lumayan OK.

Film ini mengingatkan pada film antologi-antologi cinta dari barat semacam: “Paris, je t'aime,” “New York, I Love You,” “Valentine's Day,” atau film Indonesia yang rilis tidak lama sebelum film ini, “Love”.

Film ini terdiri dari delapan cerita pendek yang masing-masing saling bersentuhan. Ketimbang mengkategorikan film ini ke kelompok hyperlink cinema (semacam “Ajami”), saya rasa film ini lebih cocok masuk kelompok film antologi. Alasannya, karena sekalipun bersentuhan, tidak ada hubungan yang berarti (atau saling memengaruhi) antara masing-masing film secara keseluruhan. Sebagian film bisa dibilang berdiri sendiri-sendiri. Satu-satunya hubungan antar segmen yang kuat dan punya pengaruh hanya dirasakan pada tokoh yang diperankan Atiqah Hasiholan.

Clash of the Titans

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: Louis Leterrier
Pemain:
Sam Worthington, Mads Mikkelsen, Alexa Davalos, Danny Huston, Gemma Arterton
Pete Postlethwaite, Ralph Fiennes, Liam Neeson

Tahun Rilis: 2010

Film ini merupakan remake dari film “Clash of the Titans” (1981) karya Desmond Davis.

MELIHAT trailer bahkan posternya saja saya sudah sadar film semacam ini memang dibikin dengan tujuan utama untuk popcorn (baca: hiburan) semata. Sebenarnya sudah tiga minggu yang lalu saya menyimak versi remake ini, tapi saya putuskan untuk menunda menulis resensi karena saya penasaran dengan versi aslinya. Rasanya, tidak adil saja mengulas versi remake tanpa tahu versi orisinilnya terlebih dahulu.

http://1.bp.blogspot.com/-NueRwvCWyRI/TWuaIz7MSOI/AAAAAAAACL8/0zKrw3WpcFI/s1600/C-.bmp

Minggu, 30 Mei 2010

Lola Rennt

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Tom Tykwer
Pemain:
Franka Potente, Moritz Bleibtreu

Tahun Rilis: 1998
Judul Internasional: “Run Lola Run”

SEJUJURNYA saya tidak suka suasana nge-punk yang terasa cukup kental di film ini. Tapi abaikan saja, toh semua itu tertutupi oleh keunikan alurnya. Layaknya “Momento” yang mempunyai cara tersendiri untuk bercerita, thriller dari German ini pun memberikan alur yang berbeda dari normalnya film-film bercerita.

The End of the Affair

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Neil Jordan
Pemain:
Ralph Finnes, Julianne Moore, Stephen Rea

Tahun Rilis: 1999

Film ini diangkat dari novel “The End of the Affair” karya Graham Greene.

JULIANNE Moore sepertinya memang terlahir buat peran-peran melankolis bertabur emosi seperti ini. Beliau memang selalu jago dalam mengukur emosi tokohnya di setiap adegan. Sebut saja peran-peran emosif-nya di film-film lain seperti “The Hours,” “A Single Man,” “Far From Heaven,” “The End of the Affair,” “Magnolia,” “An Ideal Husban,” “Boogie Woogie,” “Blindness,” “The Forgotten,” bahkan sampai film yang mengandung adegan seksual kental berjudul “Savage Grace”. Beliau seakan-akan hampir tidak pernah gagal mengukur dan mengkadar emosinya di setiap peran-perannya.

Dan sekali lagi, Julianne Moore berhasil memukau saya di film ini.

Tahun 1946. London. Cerita dibuka dengan narasi Maurice Bendrix (Ralph Finnes), seorang pengarang. Dalam satu kesempatan, Bendrix bertemu lagi dengan Sarah (Julianne Moore), mantan selingkuhannya, dan suaminya, Henry (Stephen Rea). Setengah bagian film ini disajikan dalam bentuk semacam flashback bolak-balik. Bendrix yang masih menyimpan rasa cinta pada Sarah pun akhirnya menyewa detektif untuk menguntit Sarah, sembari itu flashback masa-masa perselingkuhan mereka pun bergulir bergantian. Kedua plot masa lampau dan masa sekarang itu pun dipersatukan di satu titik (adegan) oleh diary. Dari buku harian Sarah (yang tentunya didapat oleh sang detektif), Bendrix akhirnya mendapati alasan kenapa wanita pujannya itu memutuskan untuk meninggalkannya sepihak. Sarah sudah membuat janji dengan Tuhan.

Kurang lebih begitulah garis besar cerita drama melankolis ini.

Plot dan pace film ini sangat terjaga. Tidak terasa pergerakan-pergerakan mendadak plot yang terasa menganggu atau menjablak. Alur film terjaga pelan - dan selalu konstan pada alur pelan itu. Penggambaran masing-masing adegan pun sangat cantik. Paling terasa di adegan seks-nya: tergambar evokatif dan jatuhnya tidak menjijikkan. Malah saya berani bilang, inilah contoh film-film percintaan yang pace-nya, romansanya, hingga sensualitasnya sangat terjaga.

Alasan Sarah meninggalkan Bendrix adalah sentral masalah film ini. Saya yakin sebagian besar penonton (yang menyimak) tentu bakal mempertanyakan hal itu pula (sesuai judulnya juga). Namun, sang sutradara yang memang konsisten dengan sudut pandang filmnya membiarkan hal itu tidak terjawab dengan cara yang tepat (dengan hanya memberikan kemungkinan-kemungkinan kecil yang dapat diambil). Satu-satunya jawaban yang paling meyakinkan (dan disugestikan oleh dialog tokoh Sarah sendiri) bahwa beliau sudah membuat janji dengan Tuhan yang sudah mengabulkan doanya, menyelamatkan nyawa Bendrix. Sarah pun melanjutkan, semakin waktu berjalan semakin dia merasa cintanya hanya terisi untuk Tuhan. Tapi di adegan lain lain, Sarah mengakui tidak lagi menemui Bendrix juga merupakan kutukan. Namun yang jadi pertanyaan (layaknya penonton diposisikan pada tokoh Bendrix), benarkah itu alasan Sarah yang sebenarnya? Seperti apakah sosok Sarah ini sesungguhnya? Sedalamkah itu keyakinan Sarah? Kenapa dia tiba-tiba memilih untuk tidak mau lagi menemui Bendrix?

Film ini tidak memberikan jawabannya. Dan itu hal menariknya. Satu-satunya jawaban, dari saya, adalah film ini menuntut penontonnya untuk mempelajari (menyelami) tokohnya (terutama Sarah dan keyakinannya). This is a rare movie about character reading.

Untungnya, Julianne Moore yang dibebani tugas berat memerankan tokoh Sarah.

http://2.bp.blogspot.com/-uLSbCumGA8Y/TWvGJW9zNXI/AAAAAAAACMs/-4gJX4bAOu8/s1600/B.bmp

Sabtu, 29 Mei 2010

Cold Mountain

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Anthony Minghella
Pemain:
Jude Law, Nicole Kidman, Renée Zellweger, Eileen Atkins, Kathy Baker, Brendan Gleeson, Philip Seymour Hoffman, Charlie Hunnam, Natalie Portman, Giovanni Ribisi, Donald Sutherland, James Gammon, Jack White, Ethan Suplee

Tahun Rilis: 2003

Film ini diangkat dari novel “Cold Mountain” karya Charles Frazier.

DRAMA berlatar perang memang tipe-tipe film yang selalu jadi incaran saya, seperti film bikinan almarhum Anthony Minghella ini misalnya, sutradara “The English Patient” dan “The Talented Mr. Ripley”. Apa saja yang dilakukan Minghella di film ini memang bakal mengingatkan kembali pada “The English Patient”.

Find Your Way Home

RATU KOSTmopolitan

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Ody C. Harahap
Pemain: Luna Maya, Tyas Mirasih, Imey-Liem, Fathir Muchtar, Reza Pahlevi, Yatti Surachman, Cici Tegal, Verina Widodo, Adi Kurdi

Tahun Rilis: 2010

KALAU dibandingkan dengan film Indonesia yang saya resensi sebelum film ini, “Roman Picisan”, film ini jauh lebih fun to watch. Jujur saja, butuh keberanian bagi saya buat duduk di bioskop lantas menyimak film baru Luna Maya ini setelah beliau sebelumnya meng-copy Malena-nya Monica Bellucci di film “Malena”. Apa boleh buat, karcis sudah terlanjur dibeli, dan jadilah resensi ini.

“RATU KOSTmopolitan” disutradari oleh Ody C. Harahap yang sebelumnya cukup berhasil secara komersial dengan film “Kawin Kontrak” (tapi saya tidak suka dengan filmnya). Setidaknya, komedi-komedi yang disajikan sutradara ini pure bersenjatakan komedi (entah berhasil atau tidak), dan tidak berembel-embel aktris Jepang no.1.

Jumat, 28 Mei 2010

Alice in Wonderland

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: Tim Burton
Pemain: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Stephen Fry
Crispin Glover, Michael Sheen, Matt Lucas, Alan Rickman, Barbara Windsor

Tahun Rilis: 2010

Film ini merupakan daur ulang dari novel “Alice's Adventures in Wonderland” dan “Through the Looking-Glass” karya Lewis Carroll.
TIM Burton bilang versi original kisah Alice bukanlah sebuah kisah “kisah”, tapi hanya terasa seperti kumpulan-kumpulan peristiwa. Maka Tim Burton melakukan (semacam) daur ulang pada versi asli kisah tentang Wonderland itu. Tim Burton sendiri menyatakan film ini bukanlah sequel, remake, atau re-imaging dari karya-karya sebelumnya.

Kamis, 27 Mei 2010

The Rebound

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: Bart Freundlich
Pemain: Catherine Zeta-Jones, Justin Bartha, Andrew Cherry, Kelly Gould

Tahun Rilis: 2010

UNTUK ukuran romance comedy, sure, film klise ini tidak bisa juga dibilang klise-klise amat. Formula cerita yang dipakai di film ini bisa dibilang lumayan standar untuk ukuran komedi romantis: woman-meet-man yang dicampur dengan masalah tautan usia yang lumayan jauh (kasarnya: berondong). Dan tentu pula, formula romance comedy semacam ini bisa dibilang predictable (sudah bisa ditebak garis besar ceritanya).

Rabu, 26 Mei 2010

Adventureland

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

http://4.bp.blogspot.com/_FWlFbU673eI/TH_ohga0WAI/AAAAAAAABKI/Hbodu0mwk_Q/s1600/large_375082.jpg

Sutradara: Greg Mottola
Pemain:
Jesse Eisenberg, Kristen Stewart, Ryan Reynolds, Martin Starr, Bill Hader, Margarita Levieva, Kristen Wiig

Tahun Rilis: 2009

DUA hari berturut-turut saya menyaksikan film yang dibintangi Jesse Eisenberg. Dua hari beruturut-turut pula saya menyaksikan film dengan akhiran -land. “Zombieland” dan “Adventureland”. Apa memang Jesse Eisenberg girang bermain di film land-land-an? Tapi bukan itu yang membuat saya takjub, melainkan fakta bahwa ternyata dua film yang berakhiran -land yang juga dibintangi Jesse Eisenberg itu merupakan film bagus (padahal mulanya saya sama sekali tidak tertarik menyimak dua-duanya). Haha, don't judge the movie by it's disc poster!

E.T. The Extra-Terrestrial

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: Steven Spielberg
Pemain:
Henry Thomas, Dee Wallace, Robert MacNaughton, Drew Barrymore, Peter Coyote

Tahun Rilis: 1982

APALAGI yang mau saya katakan tentang film ini? Dari sekian banyak film sci-fi (science fiction) yang sudah saya tonton, film ini masuk tiga besar teratas film sci-fi yang paling saya suka (film sci-fi yang lainnya antara lain: “2001: A Space Odyssey” (1968) garapan Stanley Kubrick dan “Metropolis” garapan Fritz Lang yang menempati posis paling puncak). Berbeda dengan “2001: A Space Odyssey” yang terkenal dengan kekuatan “scientific-realism”-nya atau dengan “Metropolis” yang sangat-sangat ekspresionis, film ini jauh lebih ringan daripada dua judul itu. Mungkin lebih tepatnya, film ini lebih scientific magical: semacam campuran nuansa sci-fi dengan bau-bau fairy tale.

Selasa, 25 Mei 2010

In The Bedroom

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Todd Field
Pemain:
Sissy Spacek, Tom Wilkinson, Marisa Tomei, Nick Stahl, Celia Weston, William Mapother

Tahun Rilis: 2001

Film ini merupakan adaptasi dari cerpen “Killings” Andre Dubus.

TEMA utama film ini adalah “dendam”. Tapi jangan kira darah segar bakal bersemburat-semburat tiada henti di film bertema dendam ini. Ketimbang menyajikan gore porn, film ini lebih memampangkan proses psikologis bagaiman sebuah tragedi bisa memberikan tekanan pada orang yang bersangkutan lalu akhirnya menghasilkan produk berupa dendam. Karena itu pendekatan yang dipraktekan di film ini berupa realisme yang cukup kental. Layaknya film-film realisme umumnya, alur film ini pun cukup pelan.

The Last House on the Left

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Denis Illiadis
Pemain:
Tony Goldwyn, Monica Potter, Garret Dillahunt, Spencer Treat Clark, Martha MacIsaac, Sara Paxton, Riki Lindhome

Tahun Rilis: 2009

Film ini merupakan remake dari “The Last House on the Left” (1972) karya Wes Craven.

SEBENARNYA sudah dari tiga hari yang lalu saya ingin menulis resensi tentang film remake ini. Tapi saya putuskan untuk menunda sejenak setelah selesai menonton versi aslinya di YouTube untuk membandingkan. Yah, meresensi film remake tidak adil rasanya bila tidak membandingkan dengan versi orisinilnya.

See? Kenapa bisa muncul istilah remake? Kenapa para pengrajin di dunia perfilman rasanya seperti ingin sekali menyuguhkan ulang film-film klasik yang pernah tampil bertahun-tahun silam? Apakah hanya sekedar agar penonton masa kini bisa menikmati ulang film (dengan skenario serupa persis) dalam layar yang lebih jernih dan lebih bersih? Tentu bukan sekedar untuk pamer-pameran kecanggihan kameran zaman sekarang dan zaman film itu dibikin, bukan?

Senin, 24 Mei 2010

Roman Picisan

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Rako Prijanto
Pemain:
Tora Sudiro, Artika Sari Devi, Alex Abbad, Ririn Ekawati, Nungky Kusumastuti, Arif Rivan

Tahun Rilis: 2010

DUO Punjabi, Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi, memang mantab sekali menggenggam ranah persinetronan Indonesia: sekalipun sinetron-sinetron yang mereka telurkan masih jauh sekali dari kata bagus. Lantas apakah “Roman Picisan”, film yang ditelurkan oleh duo Punjabi itu, sama hancurnya dengan sinetron-sinetron mereka yang tayang di tivi-tivi swasta? Let's see.

Minggu, 23 Mei 2010

The Edge of Love

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: John Maybury
Pemain:
Keira Knightley, Sienna Miller, Cillian Murphy, Matthew Rhys

Tahun Rilis: 2008

Not for the proud man apart
From the raging moon I write
On these spindrift pages
Nor for the towering dead
With their nightingales and psalms
But for the lovers, their arms
Round the griefs of the ages,
Who pay no praise or wages
Nor heed my craft or art.
Dylan Thomas

Sabtu, 22 Mei 2010

(Ajami) عجمي

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Scandar Copti & Yaron Shani
Pemain: Fouad Habash, Ibrahim Frege, Scandar Copti, Shahir Kabaha, Eran Naim

Tahun Rilis: 2009
Judul Ibrani: עג'מי
Judul Internasional: “Ajami”

MULTIPLE pointview memang bukan gaya baru dalam sepak terjang dunia perfilman. Gaya semacam ini, di era milenium ini, sudah sering dipopulerkan oleh beberapa film, katakanlah: “Babel”, “The Air I Breathe”, dan “Crash”. Gaya itulah yang diusung film yang susah payah saya cari DVD-nya (bajakan susah kalau mengharapkan ori-nya). Sebagai informasi, film dari Israel ini masuk jajaran besar nominator Best Foreign Language Oscar 2010, dikalahkan oleh “El Secreto de Sus Ojos”, sebuah crime thriller dari Argentina.

Oke, ini dia resensi dari film yang menggagalkan “Jamila dan Sang Presiden” untuk masuk jajaran nominator Best Foreign Language Oscar itu.

Jumat, 21 Mei 2010

Zombieland

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Ruben Fleischer
Pemain:
Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Emma Stone, Abigail Breslin

Tahun Rilis: 2009

Horror + Komedi

PERTAMA kalinya saya menulis resensi film “komedi konyol” yang bagus di sini. Tapi perlu diketahui, saya tidak anti dengan film komedi konyol, hanya saja saya tidak suka dengan komedi konyol yang isinya cuma konyol-konyolan belaka. Itulah stereotipe buruk “komedi konyol” Indonesia.

Sabrina

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: Billy Wilder
Pemain:
Humphrey Bogart, Audrey Hepburn, William Holden

Tahun Rilis: 1954

Film ini diangkat dari naskah drama panggung “Sabrina Fair” karya Samuel A. Taylor.

SAYA tidak akan menulis resensi panjang untuk film kali ini, karena memang tidak ada yang bisa diresensi panjang-panjang. Tapi bukan berarti film ini kacangan, buruk, atau malah sampah hanya karena saya tidak mau membahas panjang lebar.

Menyaksikan “Sabrina” merupakan salah satu sampel cara yang tepat untuk mendapatkan suasana gemerlap dan glamor sinema klasik Hollywood.

Kamis, 20 Mei 2010

Doctor Zhivago

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)

Sutradara: David Lean
Pemain:
Omar Sharif, Julie Christie, Geraldine Chaplin, Rod Steiger, Alex Guinnes, Tom Courtenay

Tahun Rilis:
1965

Film ini diangkat dari novel “Doctor Zhivago” karya Boris Pasternak.

SATU lagi mahakarya dari David Lean, sutradara dengan sederet karya-karya legenda lainnya:. Sebut saja: “Lawrence of Arabia”, “The Bridge on the River Kwai”, “Ryan's Daughter”, dan “A Passage to India”.

Saya tahu apa yang kebanyakan orang pikirkan bila mendapati film-film klasik seperti ini: kuno, katrok, jadul, dan tidak memanjakan mata. Ya. Tidak memanjakan mata! Bagi orang-orang yang, mungkin, sudah terbuai oleh hipnotis kecanggihan-kecanggihan gambar film-film era modern ini, gambar-gambar yang disajikan di dalam “Doctor Zhivago” bukanlah apa-apa. Tapi untuk ukuran sinema klasik, gambar-gambar di film ini cukup mengenakkan.

Merantau

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)


Sutradara: Gareth Evans
Pemain:
Uwais “Iko” Qorny, Sisca Jessica, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal, Ratna Galih, Yayan Ruhian

Tahun
Rilis: 2009

APA yang akan saya tulis tentang film aksi pertama Indonesia sejak tahun 2000-an ini? Sejak perfilman Indonesia dihantui (kiasan dari dikuasai) oleh pebisnis-pebisnis yang hanya mau meraup duit dari horror-horror sampah dan film-film sempak dan beha, muncul judul yang menawarkan film aksi: “Merantau”. Well, saya cukup penasaran, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan film-film Muaythai-nya Jean Claude Van Damme yang bisa dikatakan “tipikal”. Karena itu lah, saya tidak terlalu menaruh ekspektasi tinggi ketika hendak menyimak film ini. Setidaknya, melihat nama sutradaranya yang bukan Indonesia, saya tetap berharap sebuah kelas produk profesional (bukan amatiran layaknya film-film laga lokal di tivi-tivi) dari film laga ini.

박쥐 (Bakjwi)

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Park Chan-wook
Pemain:
Song Kang-ho, Kim Ok-bin, Shin Ha-kyun, Kim Hae-sook, Eriq Ebouaney, Hwang-woo Seul-hye, Mercedes Cabral, Song Young-Chang, Oh Dal-su

Tahun Rilis: 2009
Judul Internasional: “Thirst”

Trend Vampir

TEMA vampir kembali booming akibat “Twilight” yang menyuguhkan betapa rumitnya kisah romansa antara manusia dan vampir. Sayangnya, ketimbang menyuguhkan intensitas konflik yang lebih rumit, “Twilight” malah terlena dengan kisah-kisah romansa “OMG ~ So sweet” ala remaja. Begitu pula “New Moon”, sequel-nya.

Lalu dari Korea Selatan, munculah judul “Thirst” dari sutradara terkenal dengan karya “The Vengence Trilogy”. Layaknya “Twilight”, “Thirst” juga membawa tema vampir. Hanya saja, tema vampir yang dibawa, untungnya, tergali jauh lebih dalam dan jauh lebih intens. Ketimbang dibawa ke arah remaja (seperti “Twilight”), “Thirst” lebih menyuguhkan kisah vampir yang lebih hitam, lebih kelam, dan lebih seksi.

Selasa, 18 Mei 2010

The Wind That Shakes the Barley

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Ken Loach
Pemain: Cillian Murphy, Pádraic Delaney, Liam Cunningham, Orla Fitzgerald, Laurence Barry, Mary Murphy, Mary O'Riordan, Myles Horgan, Martin Lucey, Roger Allam, William Ruane

Tahun Rilis: 2002

Sebuah Perjuangan Kemerdekaan Berbalut Politik

IDEALISME Ken Loach sebagai sutradara dalam film-film sosio-realis-nya memang sudah sangat kental dan cukup terkenal. Sebut saja tema seputar ke-tunawisma-an yang dikupasnya dalam film “Cathy Comes Home” dan tema hak-hak buruh yang diusungnya dalam “Riff-Raff”. Maka tidak heran kalau tiba-tiba Ken Loach mengangkat tema perjuangan sebuah kemerdekaan di film ini. Lagipula, sebelumnya pun sudah pernah muncul film bikinan Ken Loach dengan tema serupa: “Land and Freedom” yang mendapat pujian luas di festival-festival berskala internasional.

Sabtu, 15 Mei 2010

Rayuan Arwah Penasaran

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Produser: KK Dheeraj
Sutradara: Ferry Ipey Assad
Pemain: Leah Yuzuki, Dimas Andrean, Putri Patricia, Rahma Azhari, Andreano Phillip

Tahun Rilis: 2010

Penampilan Aktris Jepang No.1 (?)

PERTAMA, perhatikan di resensi kali ini saya cantumkan nama produsernya. Sekedar informasi (atau bisa juga “peringatan”) tentang seberapa mencekamnya film yang akan dibahas ini. Lalu, perhatikan embel-embel di kover atau poster film ini:

“Penampilan Aktris Jepang no.1”

The Dangerous Lives of Altar Boys

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Peter Care
Pemain: Emile Hirsch, Kieran Culkin, Jena Malone, Vincent D'Onofrio, Jodie Foster

Tahun Rilis: 2002

Seputar Ekspektasi yang Menyimpang

SEBENARNYA saya ingin sekali membahas stereotipe-stereotipe miring masyarakat tentang kapasitas konteks film remaja, tapi sepertinya lebih baik saya simpan untuk film remaja selanjutnya saja. “The Dangerous Lives of Altar Boys” itu judulnya, atau kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi: “Kehidupan Berbahaya Pelayan-pelayan Misa”.

Jumat, 14 Mei 2010

Marvin's Room

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Jerry Zaks
Pemain: Diane Keaton, Leonardo DiCaprio, Meryl Streep, Robert De Niro, Hume Cronyn, Gwen Verdon, Hal Scardino, Dan Hedaya

Tahun Rilis: 1996

Film ini diangkat dari naskah drama panggung “Marvin's Room” karya Scott McPherson.

Penyakit dalam Film

PENYAKIT dalam film, khususnya drama, bukanlah hal baru. Berbagai macam nama dan jenis penyakit sudah dipampangkan di dunia perfilman, mulai dari penyakit psikologis hingga penyakit biologis, mulai dari batuk-batuk hingga penyakit kronis. Bahkan ada juga film malah menggunakan nama-nama penyakit-penyakit yang tidak ramah di telinga, contohnya: “The Others” yang memperkenalkan xeroderma pigmentosum atau “Lorenzo's Oil” yang membawa nama adrenoleukodystrophy (ALD). Ada juga film yang menyajikan penyakit fiksional: seperti wabah kebutaan tiba-tiba dalam film “Blindness” atau infertility epidemic dalam film “Children of Men”.

3 Doa 3 Cinta

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Nurman Hakim
Pemain:
Nicholas Saputra, Yoga Pratama, Yoga Bagus, Dian Sastrowardoyo, Jajang C. Noer, Butet Kertarajasa

Tahun Rilis: 2008
Judul Internasional: “3 Wishes 3 Loves”

Problematik Industri Film Indonesia

SEMENJAK masa (yang katanya) kebangkitan perfilman Indonesia dari tidur panjang, sudah berapa kali tema Islam dieksploitasi oleh pekerja industri film? Tentu masih ingat dengan “Ayat-ayat Cinta” yang bisa dikatakan pelopor film-film bernapas Islami. Sayangnya, ketimbang memberikan potret jujur tentang Islam, “Ayat-ayat Cinta” malah menampilkan romantisme dramatisir sinetronik dengan bumbu-bumbu Islam (Islam cuma jadi bumbu di sini). Tapi tidak bisa dipungkiri kedahsyatan booming “Ayat-ayat Cinta”, untuk ukuran film Indonesia, mampu membuat beberapa pelakon industri film lainnya menelan liur. Efek lanjutan dari bombastisme itu munculah film-film ekoran seperti: “Syahadat Cinta” dan “Mengaku Rasul”. Sayangnya, dua judul itu tidak mampu menyaingi fenomena “Ayat-ayat Cinta”. Ditinjau dari segi kualitas ataupun cara penyajian film pun, dua judul itu tidak pula bisa dibilang berhasil. Tapi pihak industri, yang umunya pasti cuma mikirin rupiah ketimbang mutu, tidak kehabisan ide, mereka menggunakan formula yang sama dengan “Ayat-ayat Cinta”: mengadaptasi novel Islami ternama dari pengarang terkenal. Lalu muncul judul: “Ketika Cinta Bertasbih 1” dan “Ketika Cinta Bertasbih 2”. Lagi-lagi, dua judul film ini pun hanya menjadi anak-anak dari “Ayat-ayat Cinta”: tidak mampu memberikan potret Islam yang jujur, masuk akal, realistis, dan yang paling penting tidak mampu memberi potret bersahaja. Tapi perlu diakui, bombatisme “Ketika Cinta Bertasbih 1” dan “Ketika Cinta Bertasbih 2” ini tidak bisa dianggap enteng.

Apakah ini artinya penonton Indonesia gampang terbuai nilai komersil sehingga tidak mampu menuntut nilai seni yang lebih tinggi lagi dari itu?

Potret Islam dalam Layar Kaca yang Paling Jujur, Paling Realistis, Paling Masuk Akal, dan Paling Bersahaja dari semua Film tentang Islam dari Indonesia Sejauh Ini

Dari semua judul film Islami yang saya sebut di atas, muncul judul “3 Doa 3 Cinta” yang tidak diembel-embeli novel bestseller ala “Ayat-ayat Cinta” ataupun “Ketika Cinta Bertasbih”. Pertanyaannya pertama: Mampukah “3 Doa 3 Cinta” ini menyaingi kedahsyatan penerus-penerusnya. Tidak! Pertanyaan kedua: Mampukah “3 Doa 3 Cinta” memberikan potret jujur, potret realistis, potret masuk akal, dan potret bersahaja tentang Islam? Iya! Bahkan berkali-kali lebih mampu ketimbang para pendahulunya itu.

Kenapa saya bilang begitu?

Pertama, “3 Doa 3 Cinta” melakukan pendekatan realisme yang cukup intensif dalam tiap-tiap adegannya, jadi beda dengan “Ayat-ayat Cinta” ataupun “Ketika Cinta Bertasbih” yang lebih menggunakan pendekatan dramatisme (malahan berlebihan). Pendekatan realisme ini bisa dilihat dari emosi dan ekspresi yang diampilkan para pemain, sound effect, kecepatan alur, hingga arah pengembangan ceritanya. Memang, sebagai konsekuensinya, film-film dengan pendekatan realisme kental selalu menjadi momok bagi “penonton awam” yang umumnya menuntut dramatisme dalam film.

Kedua, tema yang diusung lebih tersentral ke pola kehidupan muslim (potret Islam) ketimbang menitik beratkan pada opera sabun percintaan. Jadi sudah bisa dipastikan, dibanding “Ayat-ayat Cinta” ataupun “Ketika Cinta Bertasbih”, film ini jauh lebih memberikan potret nyata tentang Islam. Temanya tepatnya: film ini mencoba memberikan gambaran Islam melalui pengalaman-pengalaman tiga orang santri.

Ketiga, film ini tidak mencoba menampilkan lingkungan muslim (dalam kasus ini lingkungan pesantren) sebagai lingkungan yang sempurna. Atau bisa juga dikatakan, film ini tidak hanya menampilkan potret baik-baiknya saja dari lingkungan pesantren, tapi juga, dengan jujur, menampilkan potret buruknya.

Keempat, film ini tidak men-judge dan tidak menggurui. Tidak ada pihak-pihak, prilaku-prilaku, kejadian-kejadian, ataupun tata-cara yang dihakimi secara Islam oleh film ini. Seperti yang saya bilang di awal-awal, film ini memberikan pesan berupa potret jujur, bukan penghakiman, bukan pula ceramah. Menurut saya, faktanya, film dengan pesan berupa potret seperti ini yang jauh lebih efektif untuk menggambarkan Islam, ketimbang ceramah (atau malah penghakiman).

Lengkap sudah!

Pengalaman Tiga Santri dengan Tiga Doa Masing-masing

Masuk ke cerita, film ini menceritakan pengalaman suka-duka kehidupan pesantren dari bola mata tiga tokoh utamanya (yang pasti Dian Sastro bukan tokoh utama di sini). Dengan cukup baik, film ini memotret intrik ketiga tokoh itu dalam menelaah nilai-nilai Islam yang mereka dapat di pesantren, lalu menanamkannya bukan hanya pada kehidupan dalam pesantren tapi juga kehidupan luar yang sarat aroma globalisme. Ketiga santri yang dipampang pun, seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak digambarkan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, tapi sebagai peremajaan tiga orang santri dengan sifat dan pemahaman masing-masing. Lebih tepatnya, Nurman Hakim juga menyajikan gambaran coming-age di film ini. Yap, satu poin lagi, Nurman Hakim juga membahas pertabrakan nilai-nilai Islam yang dipegang santri itu dengan globalisme yang mereka temui di luar.

Mari bahas satu persatu quest tiga santri ini secara terpisah.

Ketika Tertabrak Fakta Sensualitas dalam Globalisme

Santri pertama Huda, diperankan oleh Nicholas Saputra, merupakan santri yang paling disukai Kyai Wahab (pemimpin pesantren). Tokoh Huda ini diceritakan mempunyai konflik kerinduan dengan sang ibu yang karena masalah moral telah meninggalkannya di pesantren tersebut. Misi pencarian alamat ibu mempertemukan Huda dengan Donna Satelit, penyanyi dangdut di sebuah pasar malam yang dimainkan oleh Dian Sastro.

Singkat cerita, Huda pun berkenalan dengan penynyi dangdut seksi yang selalu ziarah ke makam itu. Huda meminta bantuan Donna untuk mencari alamat ibunya di Jakarta. Donna tidak mau gratisan. Terpakailah uang tabungan Huda. Tapi, kalau penonton mau menilik lebih dalam lagi, bukan misi pencarian sang ibu sebenarnya konflik utama tokoh Huda ini, melainkan hubungan sekilas yang terjalin antara Donna dan Huda. Bukan cinta ala remaja penuh gelora seperti yang ditampilkan di “Ada Apa Dengan Cinta?”, melainkan hanya sebatas hubungan intens sekilas.

Mungkin penonton yang lebih kritis (bukan penonton yang cuma berharap film ini dibawa ke arah romantis-romantisan) bakal lebih menangkap maksud sang sutradara ketika menyimak adegan intens antara Huda dan Donna di belakang panggung. Perhatikan bagaimana air muka Huda ketika melihat paha telanjang Donna. Atau ketika Donna tiba-tiba melumat bibir Huda. Itulah sebenarnya puncak klimaks dari tokoh Huda ini: pertabrakan dengan fakta sensualitas dalam masyarakat global.

Untungnya, Nurman Hakim tetap bisa konsisten pada pace dan pada idealismenya dalam adegan ini. Beliau tidak membuat tokoh Huda menodongkan jari pada tokoh Donna Satelit. Beliau juga tidak menjatuhkan penghakiman pada Huda. Malahan, di ending-nya, tokoh Huda yang sudah pernah melihat paha mulus Donna bahkan dilumat bibirnya, tetap menikahi anak Kyai Wahab dan meneruskan pesantren tempat dia belajar. Saya rasa, kalau saja penonton mau berpikir kritis ketika menyimak adegan itu, maka dapatlah baik pesan maupun inti cerita dari tokoh pertama ini.

Menyikapi Globalisme

Bicara tentang tokoh kedua, Rian, yang diperankan oleh Yoga Pratama, berarti bicara tentang keterbukaan Islam terhadap budaya di luar Islam. Tokoh Rian digambarkan sebagai tokoh yang paling periang dari ketiganya, obsesif, dan paling open minded bila berbicara tentang globalisme.

Mungkin ada yang masih ingat tentang gossip-gossip bahwa bioskop itu haram yang sempat beredar dulu. Bagian Rian ini mengingatkan saya pada gossip itu. Tokoh Rian ini juga mengingakan pada tokoh Salvatore Di Vita dalam “Nuovo Cinema Paradiso” (tapi bukan berarti plot bagian Rian ini mencontek). Sinema. Cerita tentang tokoh Rian ini berputar mengenai obsesinya tentang kamera. Rian mendapat hadiah sebuah handycam dari sang ibu. Dengan handycam itu, tiga sahabat itu pun merekam pengalaman sehari-hari mereka di pesantren. Bukan hanya pada handycam, Rian pun berkenalan dengan seorang pemutar layar tancap, yang diperankan Butet Kertarajasa, di pasar malam (tempat Donna Satelit manggung). Dengan penuh semangat, Rian menumpahkan semua ketertarikannya pada pemilik layar tancap itu. Bahkan, Rian sendiri sempat menyatakan keinginannya untuk ikut serta dalam rombongan ketika lulus dari pesantren kelak.

Lantas, kira-kira apa yang ingin disampaikan Nurman Hakim dari drama obsesi tokoh Rian ini? Andai saja penonton awam mau berpikir sedikit lebih kritis, pastilah bakal menangkap pesan seputar menyikapi globalisme dari tokoh ini. Kenapa handycam harus diharamkan (dari adegannya di film)? Kenapa sinema harus diharamkan? Kenapa bioskop harus diharamkan? Apakah alasannya hanya karena hal-hal tersebut berbau-bau Amerika? Berbau-bau Barat? Begitulah kira-kira pesan yang dibebankan pada tokoh video-holic ini.

Kritik Tentang Pemahaman Terorisme

Syahid, tokoh ketiga yang diperankan Yoga Bagus. Seperti namanya Syahid (yang diambil dari kata mati syahid), tokoh ini merupakan tokoh kontras dari tokoh Rian tadi. Pendiam. Anti terhadap hal-hal yang tidak Islami. Nurman Hakim sendiri tidak serta merta berat sebelah dalam membahas masalah-masalah terorisme melalui kacamata Syahid ini. Beliau, dengan cukup pintar, malahan melayangkan kritiknya pada dua pihak sekaligus: pihak yang menuding semua Islam adalah teroris sekaligus pihak teroris.

Terlibat kemiskinan merupakan alasan utama tokoh Syahid untuk kemudian menjerumukan diri pada dunia terorisme. Tokoh-tokoh dililit kemiskinan seperti Syahid ini memang rentan terjatuh pada dunia-dunia terorisme, setidaknya begitulah yang terjadi di Indonesia. Apalagi kebencian ekstrim Syahid terhadap kaum-kaum non-Islam menjadi nilai jual tersendiri bagi terorisme. Tanah bapaknya yang dibeli murah oleh orang Amerika malah memperparah kebencian Syahid terhadap umat-umat kafir. Tetapi pemahaman moral Syahid ahirnya diuji ketika orang Amerika, yang membeli tanahnya itu, malahan melunasi semua biaya pengobatan. Lantas apa tindakan yang dilakukan Syahid ketika mendapati fakta itu? Mungkin sebaiknya silahkan disimak sendiri di film. Mungkin lebih baik tanyakan kembali pada diri masing-masing dilema yang dihadapi Syahid itu.

Tetek Bengek Lainnya

Selain tiga fokus utama itu, tentu ada spicing-spicing lain yang ditabur Nurman Hakim di film ini. Ada menu utama, ada bumbu pastinya. Hakikatnya, bumbu ini ibarat cabai atau garam yang tidak bakal nikmat bila terlalu sedikit dan tidak akan sedap bila berlebihan. Untungnya, bumbu-bumbu yang ditabur di film ini tidak melenceng dan dapat disatukan dengan baik oleh Nurman Hakim. Salah satunya yang menarik perhatian saya: isu homoseksual dan poligami, meskipun hanya dibahas sekilas karena cuma berposisi sebagai bumbu.

Penampilan ketiga pemain yang memerankan ketiga tokoh itu pun bisa dibilang pas. Saya bahakn memberi ekstra applause pada Yoga Pratama yang memerankan Rian dengan cukup sempurna.

Satu kritik kecil. Entah bagaimana ceritanya, mungkin hanya trik pemasaran pihak produser, kenapa poster film ini harus menampilkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Sekalipun itu trik pemasaran, tentu hasilnya malah menimbulkan ekspektasi menyimpang dari tema sebenarnya (dan saya pun merasakannya sebelum menonton film ini). Padahal kalau ditilik, Dian Sastro hanyalah pemeran pembantu di film ini.

Sangat disayangkan, film bermutu seperti ini malah tertutup esensinya di mata penonton awam hanya karena trik pemasaran itu. Apakah ini menegaskan bahwa pada film bermutu sekalipun, nilai komersil masih harusdikejar-kejar”?

http://4.bp.blogspot.com/-0H2FLhaH8G0/TWvOgO_yp_I/AAAAAAAACNc/yP9H1lANsNk/s1600/B-.bmp

Kamis, 13 Mei 2010

De battre mon cœur s'est arrêté

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain:
Romain Duris, Niels Arestrup, Jonathan Zaccaï, Gilles Cohen, Linh Dan Pham, Aure Atika, Emmanuelle Devos

Tahun Rilis: 2005
Judul Internasional: “The Beat That My Heart Skipped”

Film ini merupakan remake dari film “Fingers” (1978) karya James Toback.


Tentang Irama yang Sempat Terlupakan

DILEMA tentang cita-cita yang sudah dikubur dalam-dalam. Kira-kira itu tema utama film ini. Lalu bagaimana mungkin tema itu bisa diusung jadi sebuah thriller? Di mana thrilling point-nya. Tentu hasilnya akan berbeda bila tema itu dicampur lalu diramu dengan pintar dengan potret hitam kehidupan urbanisme.

“The Beat That My Heart Skipped”, itu judul internasionalnya, dari judul sendiri sudah tersirat maksud saya tentang cita-cita yang harus dikubur dalam-dalam. Apalagi kalau cita-cita yang dimaksud di film ini berhubungan dengan musik (beat), lengkap sudah garis besar tema film ini: cita-cita yang sudah dikubur, kehidupan urban, dan musik.

Belum Cukup Umur

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Pemain: Joanna Alexandra, Zidni Adam, Mentari

Tahun Rilis: 2010

Siapakah Sutradara yang Paling Produktif di Negeri Ini?

NAYATO. Yap, Nayato Fio Naula jawaban pertanyaan di atas. Tahun 2009 kemarin Nayato Fio Naula, alias Koya Pagayo, alias Pinkan Utari, alias Ian Jacobs, alias Chiska Doppert, (heran, kenapa sutradara tercinta ini tampaknya hobi sekali menyamar-nyamar) berhasil membuktikan produktivitas dirinya dengan menelurkan lima film sekaligus: “Kuntilanak Beranak”, “Pocong Jalan Blora”, “Jeritan Kuntilanak”, “Virgin 2: Bukan Film Porno”, dan “Putih Abu-abu dan Sepatu Kets” (dengan nama yang berbeda-beda, tentunya). Maka tahun 2010 ini Nayato tidak mau kalah, belum sampai setengah tahun sutradara tercinta ini sudah menelurkan lima judul film (yang kebanyakan tentang eseks-eseks remaja): “18+”, “Belum Cukup Umur”, “Affair”, “Terekam” (walau katanya sih, Nayato cuma sebagai editor), dan yang paling anyar “Akibat Pergaulan Bebas”.

Les Misérables

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Billie August
Pemain: Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, Claire Danes, Hans Matheson, Jon Kenny, Gillian Hanna, John McGlynn, Shane Hervey, Mimi Newman

Tahun Rilis: 1998

Diangkat dari novel “Les Misérables” (1862) karya Victor Hugo.

Perangkat Makan dan Dua Kandil Perak Untuk Penebusan

DEFINISI “kriminal”, ya, dua kata itulah yang muncul dibenak saya setelah melihat adegan pembukaan film yang diangkat dari novel terkenal karangan Victor Hugo ini. Film dibuka dengan cukup meninggalkan jejak untuk menegaskan ke arah mana penonton akan dibawa. Dibuka di Digne, Perancis, tahun 1815, di suatu malam ketika Jean Valjean yang baru saja dibebaskan bersyarat setelah dipenjara selama sembilan belas tahun di Bagne of Toulon karena mencuri makanan untuk keluarganya yang kelaparan. Sebagai informasi, Bagne of Toulon sendiri adalah sebuah penjara kejam yang didirikan oleh Raja Louis XV di tahun 1748. Valjean memberanikan diri mengetuk kediaman seorang uskup. Tidak diduga oleh Valjean, tapi bisa diduga oleh penonton, sang uskup memberikan makanan dan tempat bermalam untuk Valjean.

The Wings of the Dove

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Iain Softley
Pemain:
Helena Bonham Carter, Linus Roache, Alison Elliott, Elizabeth McGovern, Charlotte Rampling, Michael Gambon, Alex Jennings

Tahun Rilis: 1997

Diangkat dari novel “The Wings of the Dove” (1902) karya Henry James.

Hakikat Romantis dalam Layar Kaca

ROMANTIS? Ada baiknya sebelum masuk ke film ini, saya pertegas dulu ihwal makna “romantis” ini bila ditinjau dari sebuah pengejawantahan cerita di layar. Dalam KBBI, “romantis” sendiri mempunya makna “bersifat mesra” atau “hal-hal yang bersifat mesra”. Kalau ditinjau dari sudut pandang bahasa film? Bagian yang mana dari sebuah film romantis yang bisa dikatakan “bersifat mesra”? Adegan seorang wanita cantik tak terkira tengah yang tengah mencumbu pria pujaannya, yang tentunya tak kalah tampan, di bawah hempasan sinar rembulan – bagian semacam ini kah yang disebut “romantis”? Tentu jawabannya “iya” bila pertanyaan itu dilemparkan pada penonton-penonton ABG dan pra-ABG (terutama bagi yang berjenis kelamin perempuan).

Rabu, 12 Mei 2010

Menculik Miyabi

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Findo Purnowo HW
Pemain:
Maria Ozawa (Miyabi), Nicky Tirta, Herfiza Novianty, Kevin Julio, Rizky Mocil

Tahun Rilis: 2010

Tidak Habis Pikir: Kok Bisa Tiba-tiba Film yang Sudah Diprotes Ini Nongol Lagi?

BUKANNYA film ini sudah dilarang ya? Bukannya sudah diprotes banyak kalangan ya? Lalu kok bisa nongol lagi ke permukaan? Lulus sensor pula? Malah masuk kategori remaja? Kok bisa? Kok bisa?

Oke! Oke! Saya tidak akan ungkit-ungkit masalah outside the frame. Saya tidak akan ungkit-ungkit masalah MUI yang memprotes keras peluncuran ulang film ini. Saya tidak akan membahas masalah Raditya Dika, penulis awal, yang mundur dari film ini. Bahkan saya tidak akan bertanya siapa penggantinya (penting gak sih?). Saya tidak akan membahas kenapa sutradaranya yang mula-mula Rizal Mantovani tiba-tiba berganti jadi Findo (yang kayaknya lebih banyak bikin junkies ketimbang film). Saya tidak akan membahas kalangan DPR yang ikut-ikutan sok sadar moralitas publik dengan memprotes film ini. Pun saya tidak akan membahas kalangan FPI yang konon mau sweeping alias razia di bioskop-bioskop yang memutar film itu (mau diapain emang ya?). Bahkan, saya tidak akan memprotes kalau pun memang kenyataannya film ini diluncurkan ulang hanya karena pihak produksi lebih mengejar nilai komersil (dan nilai kontroversional).

Little Buddha

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: Bernardo Bertolucci
Pemain: Keanu Reeves, Bridget Fonda, Chris Isaak, Ruocheng Ying, Rudraprasad Sengupta, Alex Wiesendanger, Rajuh Lah, Greishma Makar Singh

Tahun Rilis: 1994

Sebuah Pengejawantahan Filsafat Religius dalam Layar Kaca

EKSISTENSIALISME. Apa yang ada dibenak penonton umum ketika mendengar film dengan tema seputar eksistensi manusia? Pastilah sebagian besar penonton bakal mengira film tersbut film yang berat, membingungkan, sangat absurd, atau malah bisa jadi sangat menjemukan. Tidak menutup kemungkinan juga sebagain besar penonton umum malah tidak paham di mana letak nilai filsafat eksistensi. Lebih parah lagi, malah sangat mungkin sebagian besar penonton umum, terutama di Indonesia, sama sekali tidak pernah mengenal kata “eksistensi”.

A Passage to India

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!
Oleh: Rio Johan (Rijon)
Sutradara: David Lean
Pemain: Judy Davis, Victor Banerjee, Peggy Ashcroft, James Fox, Alec Guinness

Tahun Rilis: 1984

Diangkat dari novel “A Passage to India” (1924) karya E.M. Foster.

Drama Kesenjangan Berlatar Kolonialisme

BICARA tentang film ini, sama saja artinya bicara tentang perilaku bentukan dari kesenjangan sosio-kultural. Film ini ber-setting di sekitar tahun 1920-an di masa kedudukan Inggris terhadap India, di masa itu pula gagasan-gagasan seputar gerakan kemerdekaan mulai berkembang di India. Bukan! Ini bukan “Lawrence of Arabia” atau “The Bridge on the River Kwai”, dua film pendahulu yang bisa dibilang melegenda bikinan sang sutradara (terutama “Lawrence of Arabia” yang masuk jajaran 10 besar film terbaik sepanjang masa versi American Film Institute). Film ini lebih memberikan sajian drama sosio-kultural ketimbang pertempuran epik. Jadi jangan berharap ada bunyi trang tring trang tring parang layaknya “Lawrence of Arabia”.